Assalaamu’alaikum wr.wb.
Hay Guys…!!! How areyou? Fine? I Hope so…
Guys,
kali ini aku akan cerita sebuah cerita kecil tentang kisahku sebagai seorang
pelajar di salah satu sekolah menengah negeri di kota Kediri, yaitu SMAN 7
Kediri, hehehe..
Dari
cerita yang kusampaikan, aku berharap Brotha-Sistha bisa menangkap pesan-pesan
moral yang aku selipin dalam cerita ini dan bisa menerapkannya kedalam
kehidupan kalian, Guys…,
Yaa..,, Syukur-syukur bisa memotivasi
kalian untuk tetep semangat bersekolah walaupun dalam keadaan yang terbatas
sekalipun.
Saya
juga ingin meyakinkan kepada Brotha-Sistha sekalian bahwa dalam hidup ini tidak
ada yang namanya “sia-sia” dari setiap usaha yang kita lakukan, selama kita
menikmati proses usaha tersebut dan yakinlahbahwa Allah pasti akan memberi
jalan bagi hambanya yang senantiasa berusaha dengan sungguh-sungguh.
Baiklah
langsung saja aku ceritain kisahku di sekolah yang aku ceritain di awal tadi,
yaitu SMAN 7 Kediri.
Kisahku
dimulai saat aku secara resmi diterima sebagai murid di SMAN 7 Kediri setahun
yang lalu, tepatnya tanggal 11 Juli 2011. Sebenarnya, waktu itu aku mempunyai 3
pilihan sekolah yang menjadi tujuanku, yaitu SMAN 1 Kediri, SMAN 2 Kediri, dan
yang terakhir SMAN 7 Kediri. Pada akhirnya dari ketiga sekolah tersebut, aku
lebih memilih untuk mendaftar di SMAN 7 Kediri dengan beberapa pertimbangan,
antara lain SMAN 7 Kediri lebih dekat dengan rumah mengingat transporasi yang
akan aku pakai untuk berangkat sekolah nanti adalah sebuah sepeda, selain itu
banyak temanku dari SMPN 4 Kediri yang mendaftar di SMAN 7 Kediri, dan
pertimbangan yang terakhir adalah aku sudah memperkirakan biaya di SMAN 7
Kediri jauh lebih murah bila dibandingkan dengan SMAN 1 Kediri dan SMAN 2
Kediri. Sebenarnya untuk pertimbangan yang terakhir, sudah ada orang yang mau
membantu pembiayaan selama aku bersekolah di SMAN 1 Kediri atau SMAN 2 Kediri,
akan tetapi dalam pikiranku, aku sudah mempunyai pandangan bahwasanya yang
menanggung mayoritas biaya sekolahku tetaplah kedua orang tuaku, apalagi kalau
mengingat bahwa pekerjaan ayah adalah seorang tukang batu dan ibuku tidak
bekerja. Oleh karena itu, akhirnya aku tetap memilih untuk bersekolah di SMAN 7
Kediri.
Nah,
sejak saat itu, kehidupanku sebagai seorang pelajar di SMAN 7 Kediri dimulai.
Semua terasa berbeda ketika di bangku SMA. Memang, sulit rasanya untuk
menjelaskan bagaimana perasaanku saat waktu itu, semua terasa indah dan
bercampur aduk jadi satu, mulai dari perasaan senang karena sudah menjadi anak
SMA , rasa cemas akan sifat guru-guru yang akan mengajarku nantinya, rasa
bahagia ketika berkenalan dengan teman-teman baru, rasa canggung berkenalan
dengan teman-teman wanita, dan masih banyak lagi, hehehe…
Dari
semua rasa yang kurasakan, maka perasaan canggung bertemu dengan teman
wanitalah yang membuatku merasa berbeda dibandingkan waktu di SMP dulu. Ya…,,
mungkin inilah yang disebut “masa-masa remaja” yang memang terasa indah apabila
dirasakan. *Wizzz… enak… hahahaha
Dengan
penuh semangat, hari-hari di SMA aku lalui. Tidak hanya perasaan yang
senang-senang saja yang kurasakan, akan tetapi semakin berat pula rasanya duduk
di bangku SMA, tidak hanya dari segi pelajaran tetapi juga dari segi sosial
atau pergaulannya. Banyak masalah yang pernah kualami di SMA, seperti masalah
ketidakmampuan orangtua untuk membayar beberapa iuran, masalah dengan teman
satu kelas, dan masalah dalam mengerjakan tugas karena keterbatasanku. Akupun
pernah diejek oleh kakak kelas karena sepeda yang kupakai. Ya..,, mungkin diangganya
anak SMA kok pakai sepeda? Tetapi aku ngga ambil pusing dengan ejekan itu, aku
cuek aja, terserah dia mau bilang apa. Bagiku, aku sudah sangat bersyukur
memiliki sepeda untuk berangkat sekolah.
Sebenarnya
masih banyak lagi masalah yang pernah aku alami, tetapi memang sengaja tidak
aku beberkan karena alas an privasi, hehe...
Nah, dari semua masalah
itu, tidak lantas membuatku putus semangat untuk bersekolah ataupun merasa
minder. Aku berusaha mengatasi masalah-masalah itu dengan berbaga cara dan
upaya semampuku.
Seperti saat saya
kesulitan mengerjakan makalah karena tidak punya komputer, maka saya
berinisiatif pergi ke rumah saudara saya untuk meminjam komputernya. Aku juga
pernah beberapa hari tidak jajan di sekolah untuk membiayai tugas makalahku
secara mandiri dan sayapun pernah naik sepeda keliling ke rumah teman-temanku
untuk meminjam buku paket.
Semua hal itu aku
lakukan dengan ikhlas dan tanpa mengeluh. Setiap kali mendapat kesulitan, aku
selalu memohon kepada Allah SWT untuk diberi kemudahan dan jalan keluar,
tentunya dengan usaha yang sungguh-sungguh terlebih dahulu. Aku selalu yakin
bahwa Allah SWT pasti akan menolong hambanya yang suka berusaha dan tidak
mengeluh ketika mendapat kesulitan. Disamping itu, aku juga selalu meyakinkan
diriku sendiri bahwa kemampuan orang tuaku memang terbatas, maka aku tidak
boleh terlalu menuntut kepada beliau berdua. Dalam hati aku tancapkan semangat
untuk berprestasi walaupun dalam keadaan yang sangat terbatas sekalipun.
Alhamdulillah, berkat
usaha, tekad, semangat, dan rahmat Allah SWT, aku berhasil mendapatkan gelar
“Paralel” ketika kelas X di SMAN 7 Kediri. Aku sangat bangga dengan prestasiku
itu, namun aku tetap tidak akan berperilaku sombong kepada teman-temanku,
apalagi aku masih mempunyai tugas untuk mempertahankan gelar itu di kelas XI
ini. SEmoga aku bisa, Amin…, do’akan juga ya Guys, hehehehe…
Aku rasa cukup sekian
dulu ya Guys ceritanya, aku sangat berharap kalian bisa menikmati ceritanya dan
dapat mengambil pesan-pesan moral di dalamnya. Ya..,, Syukur-syukur kalau
setelah membaca cerita ini, bisa terjadi suatu perubahan pada diri kalian
kearah yang lebih baik, Amin…
Bye-bye Guys…!!! See you next time
Wassalaamu’alaikum wr. wb.